Pemerintahan Amerika Serikat Kembali Mengalami Shutdown

Mulai dari Sabtu (22/12/2018), lagi-lagi pemerintah Amerika Serikat dalam keadaan shutdown waktu setempat. Penutupan sebagian layanan pemerintah federal Amerika Serikat ini berlangsung selama lima pekan dan sangat berdampak pada perekonomian. Shutdown kali ini disebabkan oleh anggaran yang diajukan pemerintah Presiden Donald Trump untuk membangun tembok perbatasan Amerika Serikat – Meksiko tidak disetujui oleh Kongres dengan alasan anggaran yang diminta Trump untuk membangun tembok tersebut dianggap teralu besar. Trump meminta anggaran sebesar USD 5,7 miliar atau setara dengan 80 triliun untuk membangun tembok perbatasan Meksiko, yang lalu ditolak oleh Kongres yang dikuasai mayoritas Partai Demokrat. Menurut sumber ABC News, Kongres mengatakan angka itu tidak rasional dan kemudian hanya menawarkan anggaran sebesar USD 2,1 miliar untuk tembok tersebut. Akhirnya pada Sabtu (26/1/2019) Presiden Amerika Donald Trump sepakat untuk mengakhiri shutdown tanpa harus membangun tembok perbatasan seperti yang dia inginkan selama ini. Namun persetujuan Trump untuk menghidupkan kembali pemerintahan hanya berlaku selama 3 pekan atau 21 hari ke depan.

Sebenarnya, apa itu shutdown? Setiap tahunnya pemerintah Amerika Serikat harus menyetujui anggaran yang akan dijalani. Rancangan anggaran ini kemudian digulirkan untuk dilakukan voting di Senat, dan apabila jumlah voting tidak tercapai dan sampai pada tenggang waktu anggaran tidak disetujui, maka pemerintah akan shutdown alias ditutup sampai kesepakatan tercipta. Shutdown berarti tidak akan ada anggaran yang dicairkan dan tidak ada uang untuk operasional yang mana artinya kerja pemerintah tidak bisa berjalan dan berdampak pada perekonomian. Shutdown bukanlah fenomena baru di Amerika Serikat. Terhitung sejak 1976 sudah tercatat adanya 19 kali aksi shutdown.

Penutupan sebagian layanan pemerintah federal Amerika Serikat yang berlangsung selama lima pekan dan merupakan yang terlama dalam sejarah ini sangat berdampak pada perekonomian. Kantor Anggaran Kongres (CBO) melaporkan shutdown telah menguras USD 11 miliar atau setara dengan Rp 154, 7 tiriliun. Angka yang fantastis ini hampir setara dengan dua kali jumlah yang Presiden Amerika Serikat Donald Trump ajukan untuk mendanai tembok perbatasan itu sendiri. Kerugian tersebut terjadi akibat hilangnya produksi yang dihasilkan oleh pekerja federal, penundaan belanja pemerintah, dan kurangnya permintaan. CBO melaporkan bahwa meskipun kerugian tersebut akan kembali pulih ketika pekerja federal kembali bekerja, namun sekitar USD 3 miliar atau setara dengan Rp 42,2 triliun hilang secara permanen. Selama masa pembukaan kembali pemerintahan sampai pada tanggal 15 Februari mendatang, Trump berharap Kongres dapat menyetujui permohonan anggaran untuk membangun tembok tersebut. Kongres AS telah membentuk komite khusus yang beranggotakan 17 wakil rakyat dari 2 partai, yakni Demokrat dan Republik untuk membahas keamanan perbatasan dan imigrasi serta membahas permintaan dana tembok yang diajukan Trump. Trump bahkan kembali memperingatkan bahwa ia akan kembali mengambil opsi shutdown jika anggarannya tidak kunjung disetujui oleh Kongres, seperti yang ia sampaikan pada wawancara dengan Wall Street Journal.

Tags from the story

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *