Konflik Turki dan Amerika Serikat yang Kian Memanas

Konflik Turki dan Amerika Serikat

Konflik yang terjadi antara Turki dan Amerika Serikat bermula dari adanya ketidaksepakatan tentang nasib pendeta dari North Carolina bernama Andrew Brunson yang ditahan di Turki. Andrew Burson dipenjara pada Oktober 2016 dengan tuduhan membantu sebuah organisasi pimpinan Fethullah Gulen, pria yang dituding berupaya melancarkan kudeta terhadap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan dianggap sebagai organisasi teroris. Kemudian pada akhir Juli, Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan memberlakukan sanksi terhadap dua pejabat tinggi Turki sebagai tanggapan atas penahanan Burson.

Awalnya sanksi tersebut hanya bersifat simbolis sampai akhirnya Trump mengumandangkan perang dagang yang kali ini memakan Turki sebagai korban dan membuat mata uang Turki, lira, yang sepanjang tahun 2011 sampai 2016 berada di kisaran 1 dolar setara 2 lira turun drastis menjadi 1 dolar setara 6 lira dengan memberlakukan pajak sebesar 20% untuk alumunium dan 50% untuk baja. Erdogan masih belum goyah dan justru membalas Amerika Serikat dengan memberlakukan tarif besar pada mobil, alkohol, tembakau, dan produk Amerika Serikat lainnya sebagai upaya pukulan terbaru dalam pertikaian ekonomi dan diplomatik yang meningkat dengan Amerika Serikat. Hal ini mengakibatkan mata uang Turki jatuh ke level terendah terhadap dolar pada Selasa (14/8), namun menjadi sedikit pulih pada Rabu (15/8) setelah Presiden Recep Tayyip Erdogan mengumumkan tarif atas produk-produk Amerika Serikat dan setelah Qatar mengumumkan bahwa pihaknya akan menginvestasikan $15 miliar untuk perekonomian Turki.

Strategi yang digencarkan Turki selanjutnya adalah dengan mendekati Iran dan Rusia untuk menjadikannya ‘teman dan sekutu baru’ yang merupakan lawan Amerika Serikat. Turki telah bekerja sama dengan kedua negara tersebut dalam strategi di Suriah dan membeli sistem pertahanan rudal S-400 milik Rusia meskipun para pejabat Amerika dan NATO telah memperingatkan Turki bahwa S-400 tidak akan cocok dengan sistem penahanan NATO lainnya. Banyak pula yang beranggapan Erdogan melakukan hal ini sebagai bentuk gertakan untuk menakut-nakuti Amerika Serikat saja. Mantan anggota parlemen Turki, Aykan Erdemir mengatakan bahwa masalah perselisihan ini jauh lebih besar jika hanya karena pemenjaraan pendeta Amerika Serikat. Kerenggangan Erdogan yang semakin menjadi dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa merupakan konsekuensi dari kekuasaan Erdogan yang semakin menonjol di Turki sebagai seorang presiden.

Pendeta Andrew Burson ditetapkan menjadi tahanan rumah dengan alasan kesehatan. Gedung Putih sendiri mengklaim Burson sebagai korban kampanye politik yang tidak adil dan dijadikan sebagai kambing hitam. Krisis ini mengguncang dua orang pemimpin politik dengan ego yang besar, bahkan Trump memiliki wacana untuk menggandakan tarif baja dan aluminum. Para pejabat Turki dan Amerika Serikat terus mengadakan pertemuan guna mengakhiri krisis ini. Kabar terakhir pada 21 Januari lalu membuat Amerika Serikat geram karena Erdogan mengungkapkan bahwa Turki siap untuk mengambil alih keamanan di Manbij, sebuah kota di timur laut Suriah yang dikendalikan oleh pasukan Kurdi di mana yang tiga pekan lalu terjadi serangan bom yang dilakukan oleh jaringan ISIS dan menewaskan empat orang pasukan Amerika Serikat yang sedang berjaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *