Kebijakan Presiden Donald Trump yang Membuat Dunia Geram

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memang tidak lepas dari kontroversi. Mulai dari pernyataan blak-blakan yang kerap ia lontarkan dalam acara kenegaraan bahkan sampai cuitan di akun Twitter pribadinya, dan tidak terkecuali kebijakan-kebijakan yang ia buat selama dua tahun terakhir menjabat sebagai presiden dan menggoyang kondisi geopolitik sampai ekonomi dunia. Pada 04 Desember 2017, Mahkamah Agung Amerika Serikat mengizinkan diberlakukannya travel ban atau larangan perjalanan bagi 7 negara bermayoritas penduduk muslim seperti Iran, Irak, Libya, Suriah, Sudan, Somalia, dan Yaman dengan alasan ‘melindungi’ negara dari terorisme. Hal ini banyak mendapatkan kecaman dari warga Negara Amerika Serikat bahkan seluruh dunia karena ditakutkan akan terjadi kekerasan yang dipicu oleh politik SARA. Maka Departemen Kehakiman Amerika Serikat segera mengajukan petisi di pengadilan untuk melawan keputusan sementara atas larangan perjalanan yang dikeluarkan oleh Trump. Hal itu kemudian membuahkan hasil ketika Hakim James Robart di Seattle mengeluarkan keputusan yang menunda pelarangan perjalanan tersebut secara nasional dan langsung berlaku. Kebijakan kontroversi kedua yang dibuat oleh Donald Trump, dan yang menjadi alasan utama terjadinya shutdown dan menyebabkan penumpukkan utang hingga USD 5,7 miliar adalah upaya pembangunan tembok untuk mencegah imigran illegal. Kebijakan yang satu ini sudah dideklarasikan oleh Trump bahkan sejak masa kampanye berlangsung dengan mengatakan akan membuat tembok yang membatasi Amerika Serikat dan Meksiko sepanjang 3.200 kilometer. Trump ingin semua imigran ilegal ditangkap dan dituntut di bawah undang-undang pidana. Beberapa waktu lalu jasad seorang anak kecil imigran dipulangkan kembali ke negara asalnya untuk dimakamkan di sana karena mengalami demam tinggi tak berkesudahan lalu meninggal ketika berada di pusat penahanan bersama sang ayah.

Kebijakan kontroversial selanjutnya adalah pengakuan Jerusalem sebagai ibu kota Israel. Hal ini ia katakan kepada The New York Times dan memerintahkan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Israel untuk segera memindahkan kantornya dari Tel Aviv ke Jerusalem pada 06 Desember 2017. Pernyataan ini menimbulkan berbagai reaksi negatif di berbagai belahan dunia. Menurut informasi dari agen dan media The Guardian, bahwa pihak Palestina tidak lagi menganggap Amerika Serikat sebagai mediator dalam proses perdamaian antara Israel dan Palestina. Pihak PBB pun mulai menawarkan resolusi di mana segala kebijakan yang bersifat menentukan status Jerusalem harus ditarik atau dibatalkan yang lalu dijadikan kesempatan bagi Trump untuk menuai ancaman bahwa ia akan menghemat uang Negara dengan cara memangkas bantuan finansial Amerika Serikat kepada Negara-negara yang mendukung resolusi PBB dalam sidang Majelis Umum PBB.

Selanjutnya, penerapan kebijakan tarif dikatakan sengaja dilakukan oleh Trump untuk membatasi impor sehingga dapat memicu produksi luar negeri. Namun tidak begitu menurut Cina. Pihak Cina menganggap pihak Amerika Serikat sedang melangsungkan perang dagang dengan diterapkannya kebijakan tarif yang mana akan memicu aksi saling balas antar negara. Organisasi-organisasi yang mewakili perusahaan-perusahaan Amerika Serikat dikabarkan telah mematangkan kampanye lobi yang dinamakan Tariffs Hurt the Heartland untuk menolak kebijakan tarif impor.

Tags from the story
,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *