Donald Trump dan Kim Jong Un Akan Melaksanakan KTT Jilid 2 di Vietnam

Pada tahun 2017, Korea Utara meluncurkan misil pertamanya ke Amerika dan mengancam akan mengirim rudal ke lebih banyak tempat di sekitar periaran Guam. Sejak tahun 2011, Kim Jong Un telah menembakan lebih dari 90 rudal dan empat senjata nuklir yang mana melebihi ayahnya, Kim Jong Il, dan kakeknya, Kim Il Sung. Hal ini tentu membuat seluruh negara di dunia menjadi was-was dan membuat ketegangan antara Amerika Serikat dan Korea Utara semakin menjad-jadi. Barulah setahun berikutnya setelah Kim Jong Un dan Donald Trump bertemu secara langsung dan menandatangani ‘kesepakatan’ pada KTT jilid pertama dan ketegangan antara kedua Negara ini yang telah terjadi selama bertahun-tahun agak mereda. ‘Kesepakatan’ yang dicapai antara lain menyebutkan kedua Negara akan bekerja sama ke arah ‘hubungan baru’ dan Amerika Serikat akan memberikan ‘jaminan keamanan’ kepada Korea Utara. Selain itu, kesepakatan yang ditandatangani pada bulan Juni 2018 di Singapura juga bisa menjadi ajang pembicaraan akhir perang Korea sebab konflik yang terjadi pada tahun 1950 hingga 1953 hanya berakhir dengan adanya gencatan senjata, bukan perjanjian damai yang final. Donald Trump bahkan berkata ia dapat membuat kedua negara tersebut rujuk kembali karena sudah saatnya ketegangan di semenanjung Korea dihentikan. Pada Jumat (1/2) kemarin, utusan khusus Amerika Serikat untuk Korea Utara, Steve Biegun, mengatakan bahwa Amerika Serikat juga ingin mengakhiri ketegangan dan tidak berusaha untuk menjatuhkan rezim Korea Utara.

Berdasarkan beberapa sumber, Presiden Donald Trump dikabarkan akan kembali bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Vietnam pada akhir Februari nanti. Presiden Amerika Serikat ini akan memberitahu detail KTT ini pada pembacaan pidato kenegaraannya yang diselenggarakan pada Selasa (5/2) malam waktu setempat. Biegun akan bertemu dengan rekan diplomatisnya, Kim Hyok Chol, pada hari Rabu (6/2) di Pyongyang. Pertemuan ini akan menjadi pertemuan kedua Donald Trump dan Kim Jong Un setelah pertemuan pertama yang dilaksanakan di Singapura pada bulan Juni tahun lalu yang mana Trump sendiri berkata bahwa pihak Korea Utara tidak lagi mengancam Amerika Serikat dengan gudang persenjataan nuklirnya. Pada saat itu, para ahli berpendapat bahwa apa yang dikatakan Trump ini bersifat ambigu; apakah sebagai pernyataan optimis belaka atau sebagai jaminan. Pihak Korea Utara juga berkata bahwa mereka tidak akan meluncurkan misil rudal yang sangat kuat asalkan Amerika Serikat tidak lagi memberi ancaman.

Pertemuan kedua antara Amerika Serikat dan Korea Utara yang kemungkinan besar akan turut mengundang Presiden Korea Selatan Moon Jae In mengingat bahwa Trump berkata ingin membuat kedua negara ini dapat berdamai kembali diharapkan dapat mencapai hasil dan keputusan yang terbaik sehingga tidak ada lagi ketegangan yang menyelimuti ketiga negara ini.

Tags from the story
, ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *