Dampak Virus Corona Pada Kondisi Ekonomi Dunia

Dampak Virus Corona Pada Kondisi Ekonomi Dunia – Penyebaran virus corona baru atau yang biasa disebut COVID19 yang saat ini sedang berlangsung dan telah menjadi salah satu ancaman terbesar bagi ekonomi global dan pasar keuangan.

Virus corona pertama kali terdeteksi di kota Wuhan, Cina pada bulan Desember lalu yang saat ini tengah menginfeksi lebih dari 110.000 orang pada lebih dari 150 negara dan wilayah secara global. Cina sejauh ini merupakan Negara dengan sebagian besar kasus yang dikonfirmasi lebih dari 80.000 orang terinfeksi. Akibatnya, saat ini Cina melakukan kebijakan locdown untuk beberapa kota, membatasi pergerakan jutaan orang, serta menghentikan beberapa operasi bisnis, seperti bisnis judi poker online yang mengakibatkan kerugian dan kemerosotan yang begitu tajam. Cina merupakan Negara dengan ekonomi terkuat dunia sehingga jika langkah tersebut diambil, perjalanan ekonomi secara global juga ikut mengalami kelambatan.

Kekhawatiran akan dampak virus korona terhadap ekonomi global telah mengguncang pasar di seluruh dunia sehingga menyebabkan anjloknya harga saham dan imbal hasil obligasi. Wabah ini telah membuat beberapa lembaga besar serta beberapa bank memangkas perkiraan mereka untuk ekonomi global. Salah satu yang terbaru untuk menyiasati kondisi ini adalah dengan membentuk Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi. Dalam laporan OECD di bulan Maret 2020, OECD mengatakan telah menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi 2020 di hampir semua negara. Pertumbuhan produk domestik bruto Cina melihat penurunan laju perkembangan ekonomi Cina dengan perkiraan awal 5,7% dan mengalami perlambatan menjadi 4,9% di tahun ini. Sementara itu, ekonomi global sebelumnya diperkirakan akan tumbuh 2,9% namun pada tahun 2020 turun menjadi 2,4%. Sektor manufaktur di China terpukul oleh wabah virus. Indeks Manajer Pembelian Manufaktur Caixin menunjukkan bahwa aktivitas pabrik China terancam mengalami kegagalan dengan angka 40,3 pada bulan Februari 2020.

Perlambatan manufaktur China telah merusak negara-negara yang memiliki hubungan ekonomi erat dengan Cina seperti ekonomi Asia Pasifik yang meliputi Vietnam, Singapura dan Korea Selatan. Pabrik-pabrik di China membutuhkan waktu lebih lama dari yang diharapkan untuk melanjutkan operasi. Dengan begitu, sektor jasa di Cina juga ikut mengalami kelemahan. China bukan satu-satunya negara yang sektor jasanya melemah. Amerika Serikat yang merupakan pasar konsumen terbesar di dunia juga mengalami ketegangan ekonomi pada bulan Februari 2020.

Pengurangan aktivitas ekonomi global telah menurunkan permintaan minyak sehingga harga minyak ke posisi terendah selama beberapa tahun ini. Cina merupakan importir minyak mentah terbesar di dunia sehingga permintaan akan berkurang. Ketakutan seputar dampak COVID-19 pada ekonomi global telah merusak sentimen investor dan menurunkan harga saham di pasar-pasar utama. Kekhawatiran atas penyebaran global dari virus corona baru juga telah mendorong para investor untuk menawar harga obligasi sehingga menghasilkan imbal hasil di negara-negara besar untuk sedikit lebih rendah. Imbal hasil semua kontrak Treasury AS turun di bawah 1% dalam seminggu terakhir. Kejadian tersebut merupakan sebuah perkembangan yang tidak terlihat sebelumnya. Kontrak patokan 10 tahun juga menyentuh level terendah historis sekitar 0,3%.

Bank sentral AS melakukan pemotongan darurat 50 basis poin minggu lalu yang menjadikan tingkat dana targetnya dari 1% menjadi 1,25%.
Dampak virus corona baru sudah terbukti secara global. Sistem lockdown saat ini sudah mulai diterapkan di beberapa negara terjangkit. Pembatasan aktivitas masyarakat dilakukan hampi di seluruh negara yang memiliki kasus COVID-19. Dunia industri dibatasi perkembangannya serta dana pemerintahan dialihkan kepada kesehatan. Pemerintah negara terjangkit umumnya fokus menghentikan rantai penyebaran virus corona baru dan membatasi oprasi sektor-sektor industri wilayah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *