Makin Memanasnya Perang Dagang Antara AS dan China

Makin Memanasnya Perang Dagang Antara AS dan China – Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini perang dagang antara AS dan China semakin memanas. Christine Lagarde sebagai Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan bahwa makin panasnya perang tersebut mampu mengancam prospek ekonomi dunia. Bahkan bila semakin parah dan tidak terselesaikan dengan baik, bisa menimbulkan dampak buruk terhadap negara-negara lainnya. Seperti yang diketahui bahwa pemicunya adalah Amerika Serikat yang memasukkan Huawei Technologies Co Ltd sebagai daftar hitam sehingga membuat China geram. Akhirnya China merespon hal tersebut dengan melakukan komunikasi antara berbagai negara dengan ekonomi terbesar.Dampak lainnya dari perang yang terus berlanjut antara As dan China ini adalah jumlah ekspor dari China ke As yang melosot pada agustus 2019 dengan beriringan pada turun drastis pengiriman produk ke AS. China saat ini telah bersiap untuk memberlakukan berbagai kebijakan baru guna menghindari terjadinya resiko pertumbuhan melambat yang semakin tajam. Salah satu kebijakan yang hendak diberlakukan atau masih dalam tahap pertimbangan adalah memangkas suku bunga kredit.

Saat ini Nilai Ekspor China ke As telah merosot secara year on year sebanyak 16% banyaknya. Sementara itu dari disisi impor dari AS juga menurun tajam sampai 22,4%. Adapun di Bulan agustus lalu, perang dagang yang terjadi antara As dan China kembali memanas lagi karena As memutuskan untuk memberikan tarif tambahan 15% untuk produk impor yang berasal dari China. China pun tidak mau kalah dengan menerapkan bea masuk dan membiarkan begitu saja melemahnya nilai tukar yuan guna menghindari terjadinya penekanan tarif. Pasalnya dengan begitu China akan mampu menghindari ongkos produksi yang meningkat. Banyak pakar yang memperkirakan bahwa pertumbuhan ekspor akan kembali melambat karena beberapa kebijakan tarif lanjutan dari AS yang baru akan diberlakukan pada 1 Oktober dan 15 Desember kedepan. Sebelumnya, AS dan China terus melempar serangan dan melempar balasan yang mampu mempengaruhi perekonomian global tidak hanya dari kedua negara tersebut.

Indonesia pun juga harus waspada dan bersiap karena bila tidak bisa terkena dampak negatif dari perang dagang As dan China yang semakin membara ini. Pasalnya memang perekonomian di Indonesia yang terbuka sehingga mudah untuk dimasukki barang-barang impor. Indonesia juga akan mengalami sulitnya ekspor karena perang yang terjadi tersebut. apabila ekspor sudah terhambat maka neraca perdagangan akan berpotensi mengalami defisit. Sementara itu, tentu saja negara lain tidak hanya Indonesia juga turut mengalami dampak dari perang dagang AS dan China. Masing-masing negara bisa meresponnya dengan kebjakan moneter dan fiskal guna mencegah terjadinya resesi dan mendorong ekonomi yang bertumbuh. Dampak perang dingin kedua negara ini tidak mempengaruhi bisnis taruhan bola seperti di situs online https://multibet88.online yang masih terus berjalan di negara-negara asia.

Persaingan Ekonomi Global Membuat Amerika Serikat Khawatir
Artikel Berita Blog

Persaingan Ekonomi Global Membuat Amerika Serikat Khawatir

Washington, ibu kota Amerika Serikat tampak khawatir dengan perekonomian global saat ini. Hal ini ditunjukkan dari NSS milik Amerika Serikat. NSS adalah Strategi Keamanan Nasional di Amerika Serikat. 4 dokumen Amerika Serikat ini berisi tentang persaingan dengan Negara lain, bukan tentang kerjasama dengan Negara lain.

Persaingan ekonomi yang dilakukan Amerika Serikat dengan Negara lain pun cukup ketat.

Namun, kali ini ada yang berbeda dengan Amerika Serikat. Amerika Serikat bukanlah Negara yang mencemaskan kondisi ekonomi di negaranya. Kali ini Amerika Serikat justru memiliki kecemasan terhadap persaingan ekonomi global yang terjadi saat ini. Dibawah Kepemimpinan Donald Trump, isi dokumen NSS dengan jelas disebutkan. Dokumen tersebut berisikan Negara-negara yang menjadi ancaman bagi Amerika Serikat. Beberapa diantaranya adalah Korea Utara dan Iran. Beberapa Negara seperti Rusia, China, dan Pakistan pun tidak lepas dari perhatian Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Rusia dan China dianggap menjadi ancaman yang serius bagi Amerika Serikat. Karena kedua Negara tersebut memiliki pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat. Dalam dokumen Amerika Serikat banyak ditemukan persaingan didalamnya, bukan kerjasama. Ada pula yang mengatakan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump terlalu percaya diri dalam masalah ini.

Ia memiliki ambisi yang tinggi bahwa Amerika Serikat akan memenangkan persaingan ekonomi global yang terjadi saat ini. Tidak hanya di Asia, Presiden Donald Trump juga sangat percaya diri bahwa Amerika Serikat akan memenangkan kompetisi dalam bidang bisnis dan perdagangan.Hal ini dilakukan agar Donald Trump dapat mengukuhkan Negara Amerika Serikat sebagai Negara adidaya. Negara adidaya adalah Negara yang memiliki kekuasaan lebih dibandingkan dengan Negara lainnya di dalam kepolitikan dunia Internasional. Beberapa Negara yang merupakan Negara adidaya Rusia, Amerika Serikat, Jepang, India, Jerman, dan lain sebagainya. Beberapa saat yang lalu, pemerintahan Amerika Serikat terpaksa mengeluarkan hak veto. Hak veto merupakan hak untuk melakukan pembatalan suatu keputusan maupun ketetapan. Hal ini dilakukan karena Donald Trum mengakui Yerussalem sebagai ibu kota Israel ini tidak mendapat dukungan dari masyarakat tingkat Internasional. Sekutu Amerika Serikat yang berada di Eopa pun tidak menyetujuinya.
Harga Emas di Washington Naik, Dunia Politik Bergejolak
Artikel Politik

Harga Emas di Washington Naik, Dunia Politik Bergejolak

Hal yang dikhawatirkan di kota Washington pun terjadi. Tingkat kekacauan politik semakin tinggi. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pemerintahan Amerika Serikat. Kontrak emas yang dilakukan oleh Amerika Serikat pun mengalami kenaikan yang sangat pesat. Pada bulan Juni, kenaikan emas yang terjadi di Washington mencapai 22,3 dolar Amerika Serikat.

Kenaikan tersebut setara dengan 1,8 persen dari harga yang sebelumnya.

Kenaikan ini termasuk kenaikan yang sangat pesat. Hal ini menyebabkan daya beli masyarakat terhadap emas pun turun, namun daya jual emas saat ini tinggi. Jika ini terus terjadi bisa menciptakan kerugian yang signifikan. Harga emas setelah mengalami kenaikan menjadi 1.258,7 dolar Amerika Serikat setiap onsnya. Ini menjadi masalah yang cukup berat bagi Amerika Serikat dengan kondisi ekonomi saat ini.

Kenaikan emas ini disusul dengan laporan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump diduga mencoba melakukan pengaruh pelaksanaan penyelidikan FBI. Satu demi satu tuduhan kepada Donald Trump dijatuhkan dari beberapa pihak.

Masyarakat khawatir jika semakin bertambahnya tuduhan terhadap Donald Trump, akan mengesampingkan program remormasi aturan yang akan dilaksanakan.

Indeks dolar Amerika Serikat juga mengalami penurunan. Meskipun penurunan ini tidak setajam kenaikan emas. Dolar Amerika Serikat mengalami penurunan hingga 0,59 persen. Dolar Amerika Serikat biasanya memang berbanding terbalik dengan harga emas. Jika dolar Amerika Serikat mengalami penurunan, justru emas akan mengalami kenaikan seperti pada saat ini. Ini sudah menjadi hal yang biasa dalam dunia perekonomian.

Hal ini perlu perhatian khusus bagi pemerintah Amerika Serikat. Agar kemerosotan yang terjadi pada saat ini tidak akan sampai mencapai kerugian yang besar. Diharap juga pemerintah Amerika Serikat menangani masalah-masalah perekonomian yang terjadi dalam waktu dekat ini. Kenaikan maupun penurunan dolar AmerikaSerikat tentu saja sangat berpengaruh pada harga bahan-baha yang lain. Termasuk bahan makanan pokok yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari. Hal ini akan menimbulkan keluhan dari masyarakat sekitar. Dan akan berpengaruh juga pada angka kemiskinan maupun angka kematian. Hal tersebut harus diperhatikan demi kelancaran berbangsa dan bernegara.

Rusia Jatuhkan Tuduhan Kepada Washington
Artikel Berita Blog Ekonomi Politik

Rusia Jatuhkan Tuduhan Kepada Washington

Rusia dan Amerika Serikat termasuk dalam kategori Negara yang maju. Bahkan kedua Negara tersebut dinilai berhasil dalam pengelolaan Negara maupun masyarakatnya. Tingkat kemiskinan yang terjadi di Rusia mapun Amerika Serikat pun hanya kecil. Namun, baru-baru ini Rusia telah menjatuhkan tuduhan kepada ibu kota Amerika Serikat, yaitu Washington. Rusia menjatuhkan tuduhan bahwa Washington telah membocorkan rincian keuangan Rusia yang bersifat rahasia.

Rincian keuangan tersebut memiliki keterkaitan dengan diplomat Rusia.

Diplomat Rusia tersebut bekerja di Negara Amerika Serikat. Awal mulanya, salah saju pejabat Amerika Serikat melakukan penyelidikan terhadap catatan transaksi keuangan. Dalam hal itu, diplomat Rusia terlibat di dalamnya. Penyelidikan catatan keuangan tersebut dilakukan karena berkaitan dengan penyelidikan adanya campur tangan dalam pemilihan presiden pada tahun 2016.

Menurut Kementrian Luar Negeri Rusia, catatan keuangan tersebut tidak berisi apapun kecuali adanya pembayaran rutin yang dilakukan. Sehingga, menurut Kementrian Luar Negeri Rusia laporan keuangan tersebut telah dibuat seolah-olah menjadi mencurigakan. Padahal ia yakin bahwa staf dan laporannya tidak mengalami hal yang mencurigakan maupun ada permasalahan. Yang menjadi masalah adalah para pejabat Washington. Ia pun juga yakin bahwa laporan yang bocor itu bukan laporan yang patut untuk dicurigai. Pasti ada pihak-pihak yang sengaja untuk melakukan hal tersebut. Kementrian Luar Negeri Rusia mencatat bahwa Washington saat ini tidak menjamin terjadinya misi-misi diplomatic Rusia dengan tepat.

Akhirnya, Kementrian Luar Negeri Rusia menjatuhkan tuntutan kepada Amerika Serikat. Ia menuntut agar Amerika Serikat menerapkan undang-undang nasional yang dimiliki oleh Negara mereka sendiri. Tidak hanya itu, Kementrian Luar Negeri Rusia juga menuntut Amerika Serikat melakukan kewajiban dalam tingkat Internasional dengan sebaik-baiknya. Kementrian Luar Negeri Rusia meninta agar distribusi infromasi rahasia yang tidak sah tersebut dapat diberantas secara cepat dan tuntas. Karena hal itu akan merugikan banyak pihak terutama Amerika Serikat harus bertanggung jawab dengan adanya kejadian ini, agar menjadi pelajaran dan tidak terulang pada Negara yang lain. Permasalahan ini harus segera diselesaikan agar tidak berdampak lebih buruk lagi.

Tak Terduga, Salah Satu Perusahaan Minyak Terbesar AS Bangkrut
Artikel Berita Blog Ekonomi

Tak Terduga, Salah Satu Perusahaan Minyak Terbesar AS Bangkrut

Siapa yang tidak mengenal Amerika Serikat? Semua orang pasti tahu dan mengenal Negara Amerika Serikat. Amerika Serikat saat ini dibawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Amerika Serikat dinilai masyarakat selalu berhasil dalam menjalankan bidang politik maupun ekonominya. Sehingga, masyarakatnya pun dapat hidup dengan sejahtera. Amerika Serikat merupakan Negara yang berhasil dalam mengelola perusahaan minyak.

Namun, kali ini datang berita yang mengejutkan dari Amerika Serikat. Salah satu perusahaan minta tersbesar di Amerika Serikat mengalami kebangkrutan. Hal ini merupakan hal yang langka terjadi pada Amerika Serikat. Perusahaab itu adalah PES. PES merupakan singkatan dari Philadephia Energy Solution. PES adalah perusahaan minyak yang terbesar di Amerika Serikat pada saat ini.

Tentunya PES dapat menghasilkan banyak keuntungan bagi Negara Amerika Serikat.

Diduga, PES mengajukan kebangkrutan karena memiliki banyak hutang yang tidak mampu untuk dibayarkan. Hal ini juga terjadi karena pengaruh harga minyak bumi saat ini semakin menurun. Itu menyebabkan PES mengalami kerugian dan tidak mampu untuk menutup hutang-hutangnya. Padahal, dari perkiraan yang ada di Indonesia, PES telah mendapatkan bantuan dana sebesar 260 juta dolar Amerika Serikat. Pada tahun 2012, PES juga telah menghabiskan uang lebih dari 800 juta dolar Amerika Serikat. Sebelum ini, PES mendapatkan beberapa keringanan. Salah satunya adalah keringanan pajak.

PES juga mengambil pinjaman sebesar 550 juta dolar Amerika Serikat. Peminjaman itu pun jatuh tempo pada tahun 2018 ini. Uang tersebut digunakan untuk penyelesaian proyek-proyek. PES juga mengalami konflik dengan perserikatan pekerja yang ada di Amerika Serikat. Mereka juga melakukan pengancaman kepada PES. Jika pemotongan keuntungan untuk pekerja tidak segera dipulihkan, maka mereka akan melakukan penyerangan terhadap PES.

Diperkirakan, PES akan mengalami kebangkrutan dalam 6 tahun setelah mendapatkan suntikan dana. Perusahaan yang akan melakukan suntikan dana terhadap PES adalah Carlyle Group LP dan Energy Transfer Partners LP Sunoco. Keduanya akan membantu PES dalam kondisi krisis keuangan pada saat ini. Tentu saja akan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan dalam jangka 6 tahun kemudian karena kebangkrutan yang terjadi pada PES.

Wall Street Terbebani Ketidakpastian Politik di Washington
Blog Politik

Wall Street Terbebani Ketidakpastian Politik di Washington

Washington merupakan salah satu kota besar di Amerika Serikat. Karena kota Washington adalah ibu kota Negara maju Amerika Serikat tersebut. Wall Street merupakan salah satu penerima saham yang berada di Washington, Amerika Serikat. Namun, akhir-akhir ini terjadi penurunan pada sejumlah indeks saham acuan di Amerika Serikat yang terdapat pada Wall Street.

Suatu Negara jika sudah menjadi negara yang maju, tidak menjadi jaminan bahwa negara tersebut tidak mendapatkan suatu permasalahan apapun. Karena masalah bisa datang pada negara maju maupun negara yang sedang berkembang. Besar kemungkinan Negara maju akan mendapat permasalahan yang lebih besar dibandingkan dengan Negara yang sedang berkembang. Termasuk permasalahan yang terjadi di Washington ini.

Permasalahan yang terjadi di Washington saat ini menyebabkan para investor bersikap waspada. Karena jika penurunan terus terjadi akan sangat merugikan para investor. Diharap ketidakpastian politik yang terjadi di Washington ini akan menemukan titik terang. Sehingga, para investor bisa melepas kewapadaannya. Jika ketidapkastian ini terus berlangsung, para investor bisa saja terus meningkatkan kewaspadaannya.

Karena investor tidak ingin mengalami kerugian yang besar akibat ketidakpastian politik di Washington ini. Untuk saat ini, para Investor sedang menunggu penyampaian kebijakan oleh sejumlah banker. Yang akan disampaikan adalah kebijakan moneter untuk perekonomian di Washington. Hal ini sangat dinanti oleh para Investor agar segera mendapatkan kebijakan dan pasti dan jelas.

Penyampaian kebijakan moneter tersebut akan dilakukan di Jackson Hole, Wyoming. Para Investor akan mencermati apa yang akan disampaikan pada penentuan kebijakan moneter pada saat itu. Pada kesempatan itu, Gubernur bank central Amerika Serikat akan menyampaikan pidatonya. Tidak hanya Gubernur bank central Amerika Serikat saja yang akan menyampaikan pidatonya. Namun, Gubernur European Central Bank juga akan menyampaikan pidatonya pada kesempatan itu.

Hal ini adalah momen yang tidak akan dilewatkan para Investor. Para Investor harus mencermati dengan seksama apa yang disampaikan oleh Gubernur Bank Central Amerika Serikat dan Gubernur European Central Bank. Karena ini akan sangat membantu para Investor untuk menemukan titik terang.